Dulu, gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia selalu dikaitkan dengan perempuan muda yang ingin kurus. Namun, kenyataannya kini jauh lebih kompleks. Data terbaru menunjukkan bahwa kasus gangguan makan pada pria justru meningkat lebih cepat daripada perempuan, sayangnya masih banyak yang tidak terdiagnosis karena stigma yang kuat.
Angka yang Mengejutkan
Menurut National Eating Disorders Association (NEDA), sekitar satu dari tiga penderita gangguan makan adalah laki-laki. Penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan kasus pada pria lebih cepat, dan tingkat keparahan gejalanya sama dengan perempuan. Namun, perempuan masih lima kali lebih mungkin didiagnosis dan 1,5 kali lebih mungkin mendapatkan perawatan. Ini bukan berarti pria lebih jarang mengalaminya, melainkan karena kondisinya sering terlewat.
Fakta menarik datang dari University of Exeter: kurang dari 1 persen penelitian tentang gangguan makan berfokus pada laki-laki, padahal justru pada populasi ini kasusnya sedang bertumbuh pesat. Sayangnya, pria lebih mungkin tidak terdiagnosis dibanding perempuan.
Stigma Ganda yang Menghambat
Pria yang berani mencari bantuan menghadapi stigma ganda: dianggap memiliki gangguan jiwa dan dianggap mengalami kondisi yang 'feminin'. Kombinasi ini membuat banyak pria memilih bungkam. Mereka merasa malu dan takut dihakimi, sehingga enggan mengakui obsesi mereka terhadap diet atau kebugaran sebagai masalah serius.
Penelitian di PubMed bahkan mengungkap bahwa laki-laki cenderung lebih menstigma penderita gangguan makan dibanding perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh seberapa kuat mereka memegang norma maskulinitas, seperti kemandirian dan penampilan heteroseksual. Semakin kuat norma itu dipegang, semakin besar stigma yang mereka berikan.
Gejala yang Berbeda
Salah satu alasan mengapa gangguan makan pada pria sering terlewat adalah gejalanya berbeda dari stereotip umum. Pria dengan gangguan makan lebih sering menggunakan olahraga berlebihan sebagai kompensasi, bukan dengan memuntahkan makanan. Mereka juga cenderung mengejar tubuh berotot, bukan kurus. Sekitar 60 persen remaja laki-laki mengalami ketidakpuasan tubuh karena ingin lebih berotot, pola yang dikenal sebagai 'Adonis Complex'.
Ketidakpuasan ini sering berfokus pada ukuran dada dan lengan, bukan perut. Muscle dysmorphia, gangguan di mana seseorang terobsesi dengan otot, diperkirakan memengaruhi hingga 10 persen pria yang rutin ke gym.
Perawatan yang Kurang Ramah Pria
Banyak program perawatan gangguan makan dirancang untuk perempuan, mulai dari terapi kelompok hingga kurikulum citra tubuh yang berfokus pada kelangsingan. Hal ini membuat pasien pria merasa asing dan tidak dipahami. Mereka kesulitan menemukan kesamaan dengan pasien lain, sehingga enggan melanjutkan perawatan.
Akibatnya, pria berisiko lebih tinggi meninggal akibat gangguan makan karena diagnosis yang terlambat. Bahkan klinisi pun kadang melewatkan tanda-tanda pada pria karena anggapan lama bahwa kondisi ini hanya menyerang perempuan.
Kelompok Pria dengan Risiko Lebih Tinggi
Beberapa kelompok pria memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan makan. Laki-laki transgender lebih mungkin melaporkan diagnosis dibanding laki-laki cisgender. Remaja LGBTQ dengan gangguan makan memiliki peluang hampir empat kali lebih besar untuk mencoba bunuh diri. Veteran pria juga menunjukkan angka yang lebih tinggi dibanding populasi umum.
Meskipun hasil perawatan secara umum sebanding antara pria dan wanita, kesembuhan masih sulit bagi banyak pasien pria. Para peneliti belum sepenuhnya menyesuaikan pendekatan perawatan untuk kebutuhan spesifik pria.
Meningkatnya kesadaran tentang gangguan makan pada pria bukan hanya soal statistik, melainkan tentang membuka jalan bagi lebih banyak pria untuk mengenali gejala, mencari bantuan lebih awal, dan mendapatkan penanganan yang sesuai. Sudah saatnya kita meninggalkan anggapan bahwa ini 'bukan masalah laki-laki'.